DUA KABAR YANG MENGEJUTKAN
(Oleh : Pujangga Kelana)
Pukul 12.00 siang, Nenda sudah menunggu
di depan ruang kantor. Anak pertamaku yang baru duduk di kelas IV SD tempat aku
mengabdi menjadi tenaga honorer. Kuhidupkan motor supra fit kriditan yang baru
tiga bulan kumiliki. Nenda naik di belakangku. Motor melaju di jalan setapak
menuju rumahku yang berjarak sekitar satu setengah kilometer. Jalannya bekelok
dinatara semak belukar. Kalau musim hujan tanah merahnya berubah menjadi lumpur
yang lengket dan licin.
Sampai rumah, Nadia, gadis kecil yang
baru berumur lima tahun segera menyambut kedatngan aku dan kakak kesayangannya.
“Kak Nenda.” Sambutnya sambil berlari
dan memeluk.
“Hari ini Nadia agak rewel, kak.
Badannya sedikit demam.” Jelas Ina, adikku yang menjadi pengasuh Nadia setiap
hari.
Kugendong Nadia, kupegang bagian
dahinya, terasa hangat, lehernya juga hangat. Demam. Sepertinya gejala flu.
“Nasi sudah saya masak, sayur asam dan
ikan asinya sudah saya letakkan di meja.” Jelas Ina. “Saya pamit pulang dulu
yah kak.” Pamit Ina. “Dah Nadia. Bibi pulang dulu yah.” Melambaikan tangan pada
Nadia sambil melangkah pulang.
“Kita makan dulu, terus sholat berjamaah
yah.” Ajak aku.
Nenda makannya sangat lahap, dia
kelihatan lapar sekali. Hari ini aku tidak memberinya uang jajan. Sedangkan
Nadia, sebaliknya. Dia sedang tidak selera makan. Mungkin pengaruh dari demam
yang mulai menggangu kesehatannya.
“Nadia bapak suapin yah ?” Rayu aku agar
dia mau makan.
“Engga bapak. Nadia gak mau makan.”
Rengek Nadia sambil menggelengkan kepalanya.
Sejak sepeninggal ibunya, Nadia memang
sering sekali menderita sakit. Ia sudah menjadi piatu sejak berumur dua tahun
lalu. Aku dan Nenda kakaknya kurang mampu mengurusnya. Untung Ina masih mau
meluangkan waktu dari pagi sampai kami pulang dari sekolah untuk mengasuhnya.
Kasih saying Ina Nampak tulus, tapi pasti tidak sebanding dengan cara asuh ibu
kandungnya sendiri.
Usai shalat dhuhur berjamaah, aku
berpamitan untuk melaksanakan kewajibanku mencari nafkah tambahan. Pengasilan
sebagai tenaga honorer di SD, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian kami,
bahkan untuk membayar kriditan motor saja masih kurang separuhnya lagi.
“Bapak berangkat ngojek dulu yah, Denda.
Jaga adikmu baik-baik. Kalau dia masih rewel dan panasnya terus naik, belikan
obat penurun panas di warung. Uangnya ada di laci meja bapak.” Pesanku seraya
mulai menghidupkan mesin motor untuk menuju pangkalan ojek di pintu gerbang
perumahan yang baru tiga tahun di buka, di tetangga desa kami.
Tiga bulan sudah kujalani sebagai tukang
ojek, upaya usaha sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup dalam membesarkan
kedua buahati tersayang. Kuabaikan malu dan lelah yang melanda. Kusingkirkan
gengsi yang terkadang menggangu jiwa.
“Makanya, dari dulu juga sudah dibilang
bapak lebih baik jadi tukang ojek dari pada jadi guru honorer.” Sindir Bu Mimin
tetangga sebelah rumah, saat tahu saya mulai mengojek.
“Doakan saja bu. Mudah-mudahan saya bisa
menjalankan tugas sebagai guru sekaligus bisa melaksanakan pekerjaan sampingan
menjadi tukang ojek.” Sahutku dengan tampa marah sedikit pun.
Bagiku pekerjaan apapun selama masih
menghasilkan rizqi yang halal, akan akau lakukan demi menghidupi naka-anak
kesayangnaku. Untuk apa hanya menghayal bekerja yang layak, dengan posisi yang
enak, mendapat gajih yang banyak, jika hanya menjadi hayalan saja. Lebih baik
melakukan sesuatu yang nyata, walau hasilnya tidak seberapa.
Di pangkalan ojek, aku disambut Kang
Bursi, teman tukang ojek di pangkalan.
“Pak, lihat ini. Saya baru saja beli Koran,
tadi banyak orang antri membeli Koran terbitan baru ini. Ternyata ada
pengumuman nama-nama yang lulus tes
CPNS, bukannya bapak juga ikut tes kemarin ?” Kang Busri memberikan orannya
padaku.
Duh aku sampai lupa bahwa hari ini ada
pengumuman kelulusan tes CPNS. Dengan jantung yang berdegup keras, aku mencari
namaku diantara ribuan nama yang tertera dalam daftar nama para Calon PNS yang
lulus seleksi CPNS tahun ini. “Subhanalllah. Alhamdulillah. Saya lulus Kang.
Ini nama saya.” Kataku gembira. Kuberikan koren itu pada Kang Busri dan aku pun
segera pulang ingin segera menyampaikan kabar gembira ini pada kedua anak saya.
“Bapak..bapak…Nadia bapak..” Sambut
Nenda saat melihat aku pulang.
“Ada apa Nenda? Kenapa adikmu ?” Aku
panih
“Lihat ayah, Nadia ayah !” Nenda
menunjuk ke arah adiknya yang sudah terbaring lemah di tempat tidur.
“Astagfirullah alazim, ayo kita bawa ke
klinik, Nend !” Ajakku sambil menggendong Nadia. Tubuh anak bungsuku itu dingin
sekali. Matanya terpejam. Namun aku merasakan masih ada degup jantung yang
membuat dadanya bergerak perlahan.
Denga sepeda motor, aku dan Nenda
membawa Nadia ke klinik terdekat. Nenda menggendong adiknya itu di belakang, sedangkan
aku mengedarai sepeda motor menembus senja yang mulai temaram. Hari nampaknya
sudah akan berganti malam, dinginnya menusuk sampai ke tulang – tulang. Semakin
cepat kupacu sepeda motorku semakin terasa dingin sekujur tubuhku. “Ya Allah
semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Nadia” gumamku.
Nasib manusia memang tidak pernah
diketahui oleh dirinya sendiri, bahkan oleh orang – orang yang menyayanginya. Begitu
pun dengan Nadia. Saat sampai di klinik tujuan, baru saja dibawa ke ruang
dokter, ternyata anak bungsuku itu telah pergi untuk selamanya. “Inalilahi wainilaihi rajiun.” Ujarku perlahan
saat dokter menyatakan bahwa Nadia sudah meninggal dunia. “Semoga anakku
diberikan tempat yang terindah di sisi pencipta-Nya.” Doaku dalam hati.
Mengetahui adiknya telah pergi untuk
selamnya, Nenda tak sanggup menahan tangisnya. Ia pun menangis sejadi-jadinya,
sampai aku sendiri tidak sanggup meredaknnya.








