NAVIGASI

Tuesday, 4 August 2015

CERPEN

DUA KABAR YANG MENGEJUTKAN

(Oleh : Pujangga Kelana)

Pukul 12.00 siang, Nenda sudah menunggu di depan ruang kantor. Anak pertamaku yang baru duduk di kelas IV SD tempat aku mengabdi menjadi tenaga honorer. Kuhidupkan motor supra fit kriditan yang baru tiga bulan kumiliki. Nenda naik di belakangku. Motor melaju di jalan setapak menuju rumahku yang berjarak sekitar satu setengah kilometer. Jalannya bekelok dinatara semak belukar. Kalau musim hujan tanah merahnya berubah menjadi lumpur yang lengket dan licin.
Sampai rumah, Nadia, gadis kecil yang baru berumur lima tahun segera menyambut kedatngan aku dan kakak kesayangannya.
“Kak Nenda.” Sambutnya sambil berlari dan memeluk.
“Hari ini Nadia agak rewel, kak. Badannya sedikit demam.” Jelas Ina, adikku yang menjadi pengasuh Nadia setiap hari.
Kugendong Nadia, kupegang bagian dahinya, terasa hangat, lehernya juga hangat. Demam. Sepertinya gejala flu.
“Nasi sudah saya masak, sayur asam dan ikan asinya sudah saya letakkan di meja.” Jelas Ina. “Saya pamit pulang dulu yah kak.” Pamit Ina. “Dah Nadia. Bibi pulang dulu yah.” Melambaikan tangan pada Nadia sambil melangkah pulang.
“Kita makan dulu, terus sholat berjamaah yah.” Ajak aku.
Nenda makannya sangat lahap, dia kelihatan lapar sekali. Hari ini aku tidak memberinya uang jajan. Sedangkan Nadia, sebaliknya. Dia sedang tidak selera makan. Mungkin pengaruh dari demam yang mulai menggangu kesehatannya.
“Nadia bapak suapin yah ?” Rayu aku agar dia mau makan.
“Engga bapak. Nadia gak mau makan.” Rengek Nadia sambil menggelengkan kepalanya.
Sejak sepeninggal ibunya, Nadia memang sering sekali menderita sakit. Ia sudah menjadi piatu sejak berumur dua tahun lalu. Aku dan Nenda kakaknya kurang mampu mengurusnya. Untung Ina masih mau meluangkan waktu dari pagi sampai kami pulang dari sekolah untuk mengasuhnya. Kasih saying Ina Nampak tulus, tapi pasti tidak sebanding dengan cara asuh ibu kandungnya sendiri.
Usai shalat dhuhur berjamaah, aku berpamitan untuk melaksanakan kewajibanku mencari nafkah tambahan. Pengasilan sebagai tenaga honorer di SD, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian kami, bahkan untuk membayar kriditan motor saja masih kurang separuhnya lagi.
“Bapak berangkat ngojek dulu yah, Denda. Jaga adikmu baik-baik. Kalau dia masih rewel dan panasnya terus naik, belikan obat penurun panas di warung. Uangnya ada di laci meja bapak.” Pesanku seraya mulai menghidupkan mesin motor untuk menuju pangkalan ojek di pintu gerbang perumahan yang baru tiga tahun di buka, di tetangga desa kami.
Tiga bulan sudah kujalani sebagai tukang ojek, upaya usaha sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup dalam membesarkan kedua buahati tersayang. Kuabaikan malu dan lelah yang melanda. Kusingkirkan gengsi yang terkadang menggangu jiwa.
“Makanya, dari dulu juga sudah dibilang bapak lebih baik jadi tukang ojek dari pada jadi guru honorer.” Sindir Bu Mimin tetangga sebelah rumah, saat tahu saya mulai mengojek.
“Doakan saja bu. Mudah-mudahan saya bisa menjalankan tugas sebagai guru sekaligus bisa melaksanakan pekerjaan sampingan menjadi tukang ojek.” Sahutku dengan tampa marah sedikit pun.
Bagiku pekerjaan apapun selama masih menghasilkan rizqi yang halal, akan akau lakukan demi menghidupi naka-anak kesayangnaku. Untuk apa hanya menghayal bekerja yang layak, dengan posisi yang enak, mendapat gajih yang banyak, jika hanya menjadi hayalan saja. Lebih baik melakukan sesuatu yang nyata, walau hasilnya tidak seberapa.
Di pangkalan ojek, aku disambut Kang Bursi, teman tukang ojek di pangkalan.
“Pak, lihat ini. Saya baru saja beli Koran, tadi banyak orang antri membeli Koran terbitan baru ini. Ternyata ada pengumuman nama-nama  yang lulus tes CPNS, bukannya bapak juga ikut tes kemarin ?” Kang Busri memberikan orannya padaku.
Duh aku sampai lupa bahwa hari ini ada pengumuman kelulusan tes CPNS. Dengan jantung yang berdegup keras, aku mencari namaku diantara ribuan nama yang tertera dalam daftar nama para Calon PNS yang lulus seleksi CPNS tahun ini. “Subhanalllah. Alhamdulillah. Saya lulus Kang. Ini nama saya.” Kataku gembira. Kuberikan koren itu pada Kang Busri dan aku pun segera pulang ingin segera menyampaikan kabar gembira ini pada kedua anak saya.
“Bapak..bapak…Nadia bapak..” Sambut Nenda saat melihat aku pulang.
“Ada apa Nenda? Kenapa adikmu ?” Aku panih
“Lihat ayah, Nadia ayah !” Nenda menunjuk ke arah adiknya yang sudah terbaring lemah di tempat tidur.
“Astagfirullah alazim, ayo kita bawa ke klinik, Nend !” Ajakku sambil menggendong Nadia. Tubuh anak bungsuku itu dingin sekali. Matanya terpejam. Namun aku merasakan masih ada degup jantung yang membuat dadanya bergerak perlahan.
Denga sepeda motor, aku dan Nenda membawa Nadia ke klinik terdekat. Nenda menggendong adiknya itu di belakang, sedangkan aku mengedarai sepeda motor menembus senja yang mulai temaram. Hari nampaknya sudah akan berganti malam, dinginnya menusuk sampai ke tulang – tulang. Semakin cepat kupacu sepeda motorku semakin terasa dingin sekujur tubuhku. “Ya Allah semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Nadia” gumamku.
Nasib manusia memang tidak pernah diketahui oleh dirinya sendiri, bahkan oleh orang – orang yang menyayanginya. Begitu pun dengan Nadia. Saat sampai di klinik tujuan, baru saja dibawa ke ruang dokter, ternyata anak bungsuku itu telah pergi untuk selamanya. “Inalilahi wainilaihi rajiun.” Ujarku perlahan saat dokter menyatakan bahwa Nadia sudah meninggal dunia. “Semoga anakku diberikan tempat yang terindah di sisi pencipta-Nya.” Doaku dalam hati.

Mengetahui adiknya telah pergi untuk selamnya, Nenda tak sanggup menahan tangisnya. Ia pun menangis sejadi-jadinya, sampai aku sendiri tidak sanggup meredaknnya.

No comments:

Post a Comment